Saat aku terbangun dari tidurku, saat itupun mulai berfikir bahwa beberapa hari ini aku sedikit melankoli. Pengalaman hari kemarin keadaannya memaksa aku harus sadar bahwa ternyata ketika suasana hatiku gelisah tidak karuan, sikap ini tidak menunjukan suasana hati yang sebenarnya.

Mereka menylahkan sikapku yang kurang baik buat kelangsungan suasana ini, tidak terlewatkan pula saran mereka, seharusnya marah saja biar semua tau aku ini sedang sakit. Dan sayangnya aku tidak begitu, tetap terlihat sepeerti biasanya sambil berharap orang akan faham situasi ini.

Obrolan-obrolan ringan yang biasa setiap saat kami senang untuk membicarakannya, tetapi tidak untuk waktu itu waktu dimana aku harus mengakui bahwa aku tidak tertarik dengn tema itu.

Bahkan tempat itu terasa asing seakan bukan lagi tempat untuk merebahkan seluruh tubuh ini disaat aku hendak beristirahat. Ketenangan dan kehangatan yang pernah aku alami , semoga suatu saat nanti entah esok atau lusa dapat kuraih kembali.

Pertikaian ini begitu sengit, berulangkali aku mencoba menenangkan dan berusaha mencari solusi agar aku dapat mengambil kesimpulan yang baik untuk nanti ketika bersikap serta mengambil sebuah keputusan. "Duniawi tengah mengguncang diri SESEORANG".

Itu bukan peristiwa yang haya terjadi saat ini, tapi aku harus bias menghentikan dan merubahnya agar esok dan seterusnya tidak ada lagi perdebatan yang terjadi di halaman fikiran ini.

Aku punya bidadari, dia adalah sebuah wadah untuk menampung tetesan air mata ini. Sesungguhnya aku tidak meminta lebih darinya, hanya saja ada sebuah harapan sederhana semoga dia bersedia untuk menampung dan mampu meredakan tetesan ini.

(for my family, I'm sorry)

-akel (ade hasanudin)-


Sebagian dari kita bukan anak kecil yang tidak pernah duduk manis disebuah kursi dalam suatu ruangan seraya mendengarkan orang dewasa berorasi tentang hidup dan kehidupan, sesekali orang dewasa itu berbicara tentang Bohong, Benci, Iri, Pelit dan masih banyak untuk kita tidak melakukannya.  Seperti itulah seorang guru terhadap muridnya. Dengan senang hati mereka mnyelimuti kita agar masadepan ini tetap hangat.

Lebih baik simpan sebentar rasa bangga ini. Setelah memandang mereka tidak senasib dengan kita, Lihatlah diri kita, trkadang kita tidak bersikap mesra terhadap lelaki tidak berdaya itu yang harus berjalan kaki untuk memenuhi janjinya terhadap perut dan keluarganya. Mungkin  juga kita pernah marah kepada perempuan itu sehingga dia harus meneteskan kesedihannya.

Tega, dan ternyata selimut ini sudah tidak lagi membuat kita hangat, dingin yang kita rasakan seolah-olah sudah bukan penyakit nurani, yang lebih parah sudah tidak ada lagi evaluasi terhadap semua ini. Tanpa alasan semuanya terdiam dan membisu melihat orang-orang yang berusaha tegar dengan bebannya.

Jawaban seperti apa yang akan kita temukan dengan pertanyaan-pertanyaan ini? kemana kita akan mencarinya? 

Terlalu licin jalan itu sehingga tidak perlu berjalan atau berlari lagi untuk menemukan sebuah jawaban atas pertanyaan ini, sangatlah mudah. pertanyaan mereka “bisakah kita untuk segera melepaskan tangan dari mata dan telinga kita masing-msing?” Ketegaran mereka sesungguhnya sedang diiringi harapan yang begitu besar kepada kita.


-akel hasanudin-