Bahkan tempat itu terasa asing seakan bukan lagi tempat untuk merebahkan seluruh tubuh ini disaat aku hendak beristirahat. Ketenangan dan kehangatan yang pernah aku alami , semoga suatu saat nanti entah esok atau lusa dapat kuraih kembali.

Pertikaian ini begitu sengit, berulangkali aku mencoba menenangkan dan berusaha mencari solusi agar aku dapat mengambil kesimpulan yang baik untuk nanti ketika bersikap serta mengambil sebuah keputusan. "Duniawi tengah mengguncang diri SESEORANG".

Itu bukan peristiwa yang haya terjadi saat ini, tapi aku harus bias menghentikan dan merubahnya agar esok dan seterusnya tidak ada lagi perdebatan yang terjadi di halaman fikiran ini.

Aku punya bidadari, dia adalah sebuah wadah untuk menampung tetesan air mata ini. Sesungguhnya aku tidak meminta lebih darinya, hanya saja ada sebuah harapan sederhana semoga dia bersedia untuk menampung dan mampu meredakan tetesan ini.

(for my family, I'm sorry)

-akel (ade hasanudin)-


Sebagian dari kita bukan anak kecil yang tidak pernah duduk manis disebuah kursi dalam suatu ruangan seraya mendengarkan orang dewasa berorasi tentang hidup dan kehidupan, sesekali orang dewasa itu berbicara tentang Bohong, Benci, Iri, Pelit dan masih banyak untuk kita tidak melakukannya.  Seperti itulah seorang guru terhadap muridnya. Dengan senang hati mereka mnyelimuti kita agar masadepan ini tetap hangat.

Lebih baik simpan sebentar rasa bangga ini. Setelah memandang mereka tidak senasib dengan kita, Lihatlah diri kita, trkadang kita tidak bersikap mesra terhadap lelaki tidak berdaya itu yang harus berjalan kaki untuk memenuhi janjinya terhadap perut dan keluarganya. Mungkin  juga kita pernah marah kepada perempuan itu sehingga dia harus meneteskan kesedihannya.

Tega, dan ternyata selimut ini sudah tidak lagi membuat kita hangat, dingin yang kita rasakan seolah-olah sudah bukan penyakit nurani, yang lebih parah sudah tidak ada lagi evaluasi terhadap semua ini. Tanpa alasan semuanya terdiam dan membisu melihat orang-orang yang berusaha tegar dengan bebannya.

Jawaban seperti apa yang akan kita temukan dengan pertanyaan-pertanyaan ini? kemana kita akan mencarinya? 

Terlalu licin jalan itu sehingga tidak perlu berjalan atau berlari lagi untuk menemukan sebuah jawaban atas pertanyaan ini, sangatlah mudah. pertanyaan mereka “bisakah kita untuk segera melepaskan tangan dari mata dan telinga kita masing-msing?” Ketegaran mereka sesungguhnya sedang diiringi harapan yang begitu besar kepada kita.


-akel hasanudin-

Temanku bilang, kalau pengen semangat bikin catatan, kamu gak perlu susah-susah cukup dengan memikirkan apa yang sedang kamu rasakan. senang dan galau itu suasana hati yang paling mudah buat dituangkan kedalam tulisan.

Eit... kalian jangan mengira kalo aku menulis ini karena sedang senang atau galau, hahay... tapi itupun sangat memungkinkan ko, kalau saat ini mereka sedang mendarat di landasan rasaku ini.

Sudah lah, itu kaga penting... ini yang penting, aku mau berpesan kepada kalian yang sedang menjalin hubungan dengan pasangan kalian masing-masing " pacaran maksudnya". kalian jangan sesekali melarang pasangan kalian untuk dekat dengan siapapun, jika kalian yakin kalau do'i kalian itu sudah dewasa maka sudah sewajarnya kalian memberikan kepercayaan sepenuhnya terhadap pasangan kalian itu.

Nah... kalau kasusnya pacar kalian yang meremehkan kepercayaan kalian, ada beberapa kemungkinan penyebabnya. pertama dia sudah kaga cinta lagi sama kalian, terus... kemungkinan kedua dia bener-benar belum dewasa.

Pertanyaannya, kalian sanggup pacaran dengan orang yang bukan dewasa? Atau kalian mau... menjalin hubungan dengan orang yang tidak cinta sama kalian? kalau jawaban kalian "mau", berarti kalian yaang konyol.

gini ya...., maksud saya benar-benar kita yang tidak punya hak buat ngelarang-larang pacar kita. karena tidak ada satupun alasan yang memperkuat bahwa kita berhak melarangnya, asal kalian tau, klian itu bukan siapa-siapanya dia, hanya sebatas pacar kan?